Header AD

header ads

AYAH BELAJARLAH KURIKULUM IMAN, DEMI KAMI


eraummat.com - Ketika ayah bersama dengan anak-anaknya sedang bertamasya di pantai, kebun atau di padang yang luas, bimbingan mengenalkan kebesaran Allah sangat diperlukan. Ayah dapat membimbingnya melihat langit yang indah, bintang yang berkelip, atau bumi yang berselimut bunga. Ini adalah kesempatan ayah menemani anak-anaknya yang memiliki kecenderungan kebaikan. Kecenderungan bagian dari naluri anak-anak. Karena anak-anak memiliki naluri keimanan kepada Allah Subhanahuwata’ala, pengakuan terhadap AllahSubhanahuwata’ala, dan keberadaan-Nya. Ibnu Al-Jauzi berpendapat bahwa pada diri anak-anak telah tertanam keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada pasti ada yang membuatnya. Keyakinan ini secara otomatis diakui dan ada pada diri anak.
Maka dari itu, setiap ada kesempatan ayah diharapkan menemani anak-anaknya. Sebagaimana Rasulullahshalallahu’alaihi wa sallam yang pernah menemani Ibnu Abbas di atas kendaraan sambil mengajari tentang ketauhidan.
Pemantauan Allah Subhanahuwata’ala terhadap hamba-Nya dan sikap tawakal kepada Allah Subhanahuwata’ala.Keterlibatan ayah menemani anak-anaknya bagian dari usaha menghadapkan wajahnya kejalan yang lurus (agama). Agama yang lurus, sudah dikaruniai AllahSubhanahuwata’ala kepada anak-anak. Di dalam agama Islam dikenal dengan kata “Fitrah”.
فَأَقِمْوَجْهَكَلِلدِّينِحَنِيفًا ۚ فِطْرَتَاللَّهِالَّتِيفَطَرَالنَّاسَعَلَيْهَا ۚ لَاتَبْدِيلَلِخَلْقِاللَّهِ ۚ ذَٰلِكَالدِّينُالْقَيِّمُوَلَٰكِنَّأَكْثَرَالنَّاسِلَايَعْلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama Allah,(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan terhadap fitrah Allah. Itulah agama yang lurus. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S Arrum 30)
Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan makna fitrah. Mujahid, ‘Ikrimah, Hasan Al-Bashri, Ibrahim an-Nakha’i berpendapat bahwa yang dimaksud dengan fitrah adalah Islam. Sedangkan Ahmad bin Hambal, Ibnu Taimiyah, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar Al- ‘As qallani berpendapat bahwa yang dimaksud dengan fitrah itu adalah keimanan. Namun ini menjadi pedoman kuat untuk para ayah, keterlibatan yang sesering mungkin dalam pengawalan fitrah anak-anaknya. Insya Allah, keislaman dan keimanan pada diri anak-anak akan terjaga dengan baik.
Mengenai kata Islam dan Iman, para ulama pun membahas tentang hal ini. ketika kata Iman dan Islam disebutkan secara terpisah, maka maksudnya adalah agama Islam secara keseluruhan, sehingga tidak ada bedanya antara Iman dan Islam.
Namun ketika kata Iman dan Islam disebutkan secara bersamaan dalam satu kontek pembahasan, maka yang dimaksud dengan iman adalah: amalan batin dan hati yang meliputi iman kepada Allah, mencintai-Nya, takut, mengharap, ikhlas hanya kepada-Nya –subhanahu wa ta’ala. Sedangkan makna Islam adalah amalan dzahir (nampak) yang bersumber dari keimanan dalam hati, dan jika tidak dilandasi iman maka pelaku amal tersebut adalah munafik atau imannya lemah.
Ini menunjukkan posisi iman lebih tinggi dari islam. Sebagaimana kalimat ibnu katsir:
“setelah Islam ada tingkatan selanjutnya yang lebih tinggi yaitu Iman”.
Maka ini menjadi sebuah urutan pendidikan sendiri bagi ayah muslim. Agama Islam sudah ada pada ayah dan anak-anaknya. Lalu bagaimana amalan-amalan nyata pada agama islam itu bisa berjalan dengan baik pada anak-anak. Mereka perlu kurikulum iman yang berurut. Agar ayah bukan sekedar menemani anak-anaknya , ada pengawalan iman disaat menemani anak-anak. Maka ayah belajarlah kurikulum Iman sebelum Al-Qur’an untuk modalmu menemani anak-anak.
Sumber :
-Tanggung jawab ayah terhadap anak laki-laki, Dr. Adnan Hasan Baharits
-islamqa.info ( tanya jawab tentang islam)
AYAH BELAJARLAH KURIKULUM IMAN, DEMI KAMI AYAH BELAJARLAH KURIKULUM IMAN, DEMI KAMI Reviewed by KAJIAN TAFSIR on 12:06 AM Rating: 5

No comments

Post AD

home ads