Header AD

header ads

MENDIDIK ALA RASULULLAH Oleh Ustadz Haidar (Guru Kelas Kuttab Al Fatih Jember)

Kabar Ummat - Di Madura terdapat Ulama’  yakni Syaikhona Kholil bin Abdul Latif. Suatu ketika beliau kedatangan tamu dengan membawa permasalahan anaknya. Dikisahkan anaknya sering memakan segala yang manis, gula di rumah juga sampai habis, bahkan gula di rumah tetangga dia dilahapnya. Si Ayah harus berulang kali mengganti gula tetangganya. Kendati selalu diingatkan untuk tidak memakan gula terus, seolah nasihat sang ayah tidak pernah didengarkan, dan perbuatan anak tersebut semakin mengkhawatirkan. Inilah yang membuat si ayah ingin meminta nasihat kepada Kyai Kholil.

“Bawa anakmu kerumahku 40 hari lagi” pendek saja nasihat Kyai Kholil pada tamunya tersebut.

40 hari berlalu, sang ayah dan anak mendatangi kyai Kholil. Kyai Kholil mengajak si anak mendekat pada untuk memberikan nasihat. Hanya itu dan berdua ayah dan anak ini berpamit pulang. Sesampainya di rumah, si anak tidak ingin lagi makan gula ataupun makanan yang manis-manis lagi. Sang ayah heran, nasihat atau bacaan apa yang telah diberikan sang Kyai?

 Cara yang Sederhana, Namun Itulah yang Istimewa

Kyai Kholil menyampaikan beliau hanyalah menyuruh anak itu agar jangan makan gula lagi. Tentu sulit dipercaya. Ternyata sebelum kali kedua mereka mendatangi sang Kyai, selama 40 hari tersebut kyai Kholil berhenti mengkonsumsi gula, bahkan untuk minum kopi saja! Tertegun ayah menyimak kesungguhan nasihat sang Kyai untuk menyembuhkan kebiasaan jelek anaknya.

Tentu pembaca kini dapat menyimpulkan, sang Kyai mempraktik-kan terlebih dahulu nasihatnya sebelum disampaikan. Nasihat tersebut menyentuh hati karena disampaikan oleh orang yang langsung mempraktik-kannya. Itulah sebaik-baik pelajaran dari guru-guru beliau yang bersambung kepada Rasulullah .

Sekolah Peradaban itu Mempersiapkan Guru

Kuttab Al-Fatih membina para gurunya untuk menggunakan metode Rasulullah layaknya guru yang meluluskan generasi pemimpin dunia yang hebat dan shalih. Kurikulum ilmiah,  fasilitas mewah, dan murid yang istimewa tidak akan berbuah ketika para guru tidak disiapkan dengan sebaik-baiknya. Gurulah ujung tombak pendidikan, yang berhadapan langsung dengan generasi didik,

Para sahabat adalah anak didik Rasulullah. Sejarah menyaksikan bahwa mereka generasi terbaik yang pernah dihadirkan untuk manusia di muka bumi ini. Zaman itu dijuluki jahiliyah. Bukan karena miskinnya pengetahuan, malah kesusasteraan Arab sedang di masa puncaknya saat itu, tetapi moral masyarakat yang sangat kritis. Sebagian besar para sahabat dulunya ikut larut dalam arus jahiliah. Keadaan ini tidak menguntungkan dunia pendidikan. Tetapi Rasulullah berhasil! Keberhasilan Rasulullah r dapat ditiru asal cara beliau kita ikuti.

Dimulai dari Diri Sendiri

Al Julanda Raja Oman radhiallahu anhu berkata,“Dia (Allah) telah memberiku petunjuk kepada nabi buta huruf ini: dia tidak memerintah kecuali menjadi orang pertama yang melakukannya, dia tidak melarang kecuali menjadi orang pertama yang menjauhinya”. (Al Khashaish kubra, as suyuthi, 2/23, MS)

Kata-kata Nabi  sangat ringkas, padat, dan sesuai dengan tema. Karena terlalu banyak berkata-kata akan banyak menyebabkan pendengar bosan. Rasulullah r sering mengucapkan perumpamaan karena khawatir sahabat bosan. Yang terpenting pendengar mendapat manfaat dari adanya penjelasan beliau. Rasulullah rtak segan mengulang penjelasan sebanyak tiga kali jika ada yang sangat penting.

Jika seorang pelajar melihat gurunya mengamalkan ajarannya, tentu pelajar tidak akan melupakan pelajaran itu. Bagaimana Rasulullah  mengajari para Sahabat cara berwudhu’? Baginda berwudhu’ dihadapan mereka. Ketika hendak mengajarkan sholat, Rasulullah  menaiki mimbar. Seperti yang kita ketahui bahwa mimbar bukanlah tempat sholat. tetapi nabi  bermaksud untuk memberikan pelajaran. Mungkin para pendidik merasa kesulitan untuk membuat semua itu. Nabi  naik ke mimbar untuk menunjukkan cara sholat. Para sahabat dapat melihat dan dapat belajar, lalu beliau bersabda,”Solatlah sebagaimana aku sholat” .

Memperhatikan Keadaan Anak Didik

Rasulullah  pernah didatangi sekumpulan pemuda dari luar madinah. Mereka tinggal bersama Rasulullah  selama 20 hari untuk belajar. Nabi menyampaikan pelajaran secara intensif kepada mereka tentang asas-asas agama. Rasulullah  bertanya tentang ciri-ciri pelajar. Jika seorang pendidik mengabaikan keadaan pelajar, mungkin akan ada halangan antara mereka. Kata mereka, nabi bertanya, Siapa yang kamu sudah tinggalkan? Jawab mereka, Kami tinggalkan keluarga kami. Rasulullah  insan penyayang dan terus sadar bahwa para pemuda itu merindukan keluarga mereka. Lalu Rasulullah bersabda, “Pulanglah kepada keluarga kalian.” Ajari mereka, solatlah bersama mereka.”

Kita melihat Rasulullah sangat peduli terhadap tempat asal para pemuda tersebut sehingga saran beliau pula agar mereka kembali kepada kaumnya ketika para pemuda tersebut nampak ada kegelisahan diantara mereka.

Nabi  juga memperhatikan kemampuan dan kemahiran  yang dimiliki oleh masing-masing sahabat. Khususnya dalam bidang Ilmu tertentu. Rasulullah  mengarahkan Zaid bin Tsabit mempelajari bahasa asing. Kata Zaid, Rasulullah memerintahkan aku untuk belajar Bahasa Suryani. Beliau dapat belajar dalam waktu yang singkat dengan panduan Rasulullah r. Rasulullah ingin menyebarkan ilmu dan mengambil manfaat dari ilmu agama ini untuk memajukan ummatnya. Inilah kaidah hebat yang dirintis oleh Rasulullah SAW.

Bertanya kepada Murid

Pertanyaan adalah kunci pengetahuan. Nabi r sering memberikan berbagai pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang menarik. Persoalan yang merangsang pemikiranuntuk berpikir.Rasulullah  bertanya, Kamu tahu siapa orang Islam? Kita semua orang Islam, apa maksud Nabi r?

Jawabannya mudah saja, Orang yang menyelamatkan orang Islam dari lidah dan tangannya itulah orang muslim . Ma sya Allah. Sesuatu hal yang hampir ditinggalkan oleh ummat ini, ketika banyak yang tidak peduli dengan perasaan orang lain sehingga kadang tanpa terasa mengganggu perasaan saudara sesama muslim.

Derajat Orang yang Mengajarkan Ilmu (Guru)

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imron 18)

Ayat tersebut menjelaskan tentang martabat orang yang berilmu. Maka perhatikanlah, Allah memulai dengan diri-Nya sendiri, kemudian para malaikat dan selanjutnya orang yang berilmu pengetahuan. Allah menempatkan para guru sebagai orang yang memiliki ilmu sebagai pewaris Nabi SAW, yakinilah bahwa yang diusahakan untuk mengikuti sunnah Nabi SAW.

Ustadz Budi Ashari, Lc. dalam beberapa majelis beliau pernah menyampaikan “Jika seseorang mengikuti sunnah Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam , maka dia akan mendapatkan yang lebih dari yang dia inginkan, karena dalam mengikuti sunnah Nabi  terdapat keberkahan.” Dengan cara mengikuti sunnah Nabi SAW maka inilah yang menjadi penghubung dengan Nabi  yakni melalui mengajar. Para guru akan menjadi orang yang diberkahi Allah Subhanahu Wata’ala. sebagaimana firman –Nya  pada surat Ali Imron ayat 31.

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ya Allah bimbinglah kami…

Sumber : http://kuttabalfatih.com/mendidik-ala-rasulullah/
MENDIDIK ALA RASULULLAH Oleh Ustadz Haidar (Guru Kelas Kuttab Al Fatih Jember) MENDIDIK ALA RASULULLAH Oleh Ustadz Haidar (Guru Kelas Kuttab Al Fatih Jember) Reviewed by KAJIAN TAFSIR on 9:46 PM Rating: 5

No comments

Post AD

home ads