Header AD

header ads

WAHYU TUMURUN DAN RAMADHAN TANPA I’TIKAF

Google Image

ERAUMMAT.COM - Hari ini kita memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Ada yang terasa hilang, karena 10 hari ini tak bisa dimaksimalkan untuk beri’tikaf di masjid. Mendaras bacaan Alqu’an hingga waktu sahur menjelang.
Yang belum khatam, segera ditambah “speed”-nya.
Yang menargetkan menambah hafalan, jangan kasih kendor.
Yang shadaqah terasa masih berat, segera hempaskan perasaan itu.

Selagi masih ada hari-hari Ramadhan yang tersisa, ini saatnya maksimalkan kualitas ibadah dan menambah ketaatan.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Rasulullah SAW ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah (dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” [HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174].
Memaksimalkan ibadah di bulan Ramadhan lalu dicontoh para sahabat, hingga para alim dari generasi ke generasi berikutnya.
Salah satunya yang dilakukan Khalifah Harun Al Rasyid dari Daulah Abbasiyah. Ada hal menarik yang dilakukannya pada Ramadhan.
Seperti yang ditulis Imam Adz-Dzahabi dalam Tarikhnya, “Tahun 179 H, Harun al-Rasyid berumrah di bulan Ramadhan. Ia senantiasa dalam ihramnya hingga musim haji tiba. Ia berjalan dari rumahnya menuju Arafah.”
MasyaAllah. Tak terbayangkan berihram dari bulan Ramadhan hingga Dzulhijjah. Padahal, seseorang yang sedang berihram memiliki pantangan yang sangat banyak dan tak ringan. Hanya manusia ikhlas lah yang bisa melakukannya.
Lain lagi dengan kisah Raja Yogya Hamengkubuwono I mengisi 10 hari terakhir Ramadhannya. Sang Raja biasa ber-i’tikaf di masjid dengan mengenakan kain batik bermotif khusus yang disebut Wahyu Tumurun. Motif ini menggambarkan peristiwa turunnya Alqur’an (Nuzulul Qur’an) hingga Lailatul Qadr.
Bila Sang Raja sudah mengenakan kain motif itu, maka rakyatnya seperti diingatkan bahwa Ramadhan akan segera sampai di penghujung.
Secara filosofis, kain batik bermotif Wahyu Tumurun mengandung makna dan harapan agar pemakainya mendapat petunjuk dan keberkahan yang berlimpah dari Allah.
Tak heran kalau kain batik motif ini sekarang sering dipilih untuk dikenakan para pengantin pada upacara pernikahan. Karena mengharapkan datangnya keberkahan dalam menjalani biduk rumah tangga.
Mulai malam ini, kita akan berburu datangnya Lailatul Qadr. Sekalipun tak lagi bisa beri’tikaf di masjid, namun kita tetap bisa menghidupkan malam-malamnya di rumah bersama keluarga tercinta.
”Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah Lailatul Qadr. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab,”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).”

Jakarta, 13/5/2020
Sumber :  Uttiek
WAHYU TUMURUN DAN RAMADHAN TANPA I’TIKAF WAHYU TUMURUN DAN RAMADHAN TANPA I’TIKAF Reviewed by ERA UMAT on 6:11 AM Rating: 5

No comments

Post AD

home ads